Sejarah

Sejak awal berdirinya, Perguruan Tinggi Agama Islam memiliki mandat utama sebagai pusat pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Berada di sebuah negara yang mayoritas umat islam, kedudukan strategis PTAI akan berkontribusi pada pembentukan citra islam di Indonesia. Kontribusi itu akan lebih nyata jika PTAI menawarkan berbagai alternatif kajian keislaman yang komperhensif dan pada saat yang sama terlibat dalam mengatasi persoalan-persoalan umat dan warga negara.

Posisi PTAI seperti itu mengharuskan adanya formulasi yang integratif terhadap studi-studi keislaman. Keberadaan ma`had di kampus peguruan tinggi islam diyakini dapat memperkuat citra PTAI yang unik dan karakteristik sebagai pengembangan misi studi keislaman secara komperhensif. Dengan integratalitas itu diharapkan PTAI mampu menghasilkan mahasiswa  dan alumni yang memiliki keunggulan akademik, keluhuran akhlak, ketinggian spiritualitas dan penguasaan ilmu pengetahuan secara teritegratif

Sejauh ini, alumni PTAI belum mencapai kompetensi lulusan yang dapat diunggulkan. Indikasi yang mudah dicandera bahwa mereka belum mampu bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain untuk mendapatkan pekerjaan atau menempuh pendidikan lebih lanjut. Kondisi demikian disebabkan antara lain : 1) lemahnya penguasaan bahasa asing, terutama Arab dan Inggris, 2) minimnya penguasaan ilmu-ilmu keislaman karena tidak ditopang dengan kemampuan membaca dan memahami kitab-kitab standar, 3) lemahnya kemampuan akademik serta kurangnya inovasi dan kreatifitas , dan 4) internalisasi nilai-nilai islam yang kurang mendap[at perhatian sehingga belum mampu membentuk watak, kepribadian, atau akhlak bagi alumni.

Mencermati beberapa permasalahan di atas Direktorat  Jenderal Pendidikan Islam Kementrian Agama RI mencari solusi alternatif dalam upaya meningkatkan kompetensi lulusan PTAI. Upaya yang dipandang penting adalah menyelenggarakan program penunjang PTAI yang disebut dengan Ma`had al-Jami`ah. Ide Ma`had al-Jami`ah ini dilatarbelakangi oleh keberhasilan Ma`had al-Aly IAIN Sunan Ampel yang dirintis dan dikembangkan oleh STAIN (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang sejak tahun 2000. Poin penting keberhasilan tersebut terletak pada keseriusan, kebersamaan, keikhlasan dan tanggung jawab semua sivitas akademika UIN Malang untuk membina mahasiswa melalui Ma`had al-`Aly. Semangat inilah yang ditularkan dan patut dicontoh oleh PTAI lain untuk mendongra kompetensi lulusan yang lebih kompetitif. Hal lain yang dianggap faktor keberhasilan Ma`had rintisan UIN Malang adalah integrasi model perguruan tinggi dengan pendidikan islam tradisional (pesantren).Pengintegrasian sistem pendidikan pesantren ke dalam pendidikan tinggi ini dapat membantu PTAI mencapai cita-cita dan tujuan pendidikannya.

Pendirian Ma`had al-Jami`ah sebagai nyawa integrasi pendidkan tinggi dan pendidikan pesantren dipandang penting untuk menggenapi rukun atau pilar sebuah perguruan tinggi islam (arkan al-Jamiah) -meliputi dosen dan mahasiswa , masjid, ma`had, laboratorium, perpustakaan, saran pertemuan ilmiah, pusat-pusat pelayanan/perkantoran, pusat pengembangan seni dan olahraga, dan sumber pendanaan. Ma`had al-Jami`ah yang dimaksud bukan jenis atau nomenklatr baru dalam sistem kelmbagaan PTAI, melainkan bagian tak terpisahkan dan terintegrasi dengan PTAI itu sendiri. Sebagai bagian tak terpisahkan maka keberadaan Ma`had al-Jami`ah adalah suatu yang niscaya dan merupakan komplemen terhadap pilar lainnya.

Program ini juga tidak memberikan gelar khusus, tetapi menyatu dengan gelar yang diberikan PTAI sesuai dengan fakultas/jurusan/program studi yang diambil oleh mahsiswa yang bersangkutan. Program ini lebih diarahkan untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan mahasiwa dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kompetensi di bidang bahasa (Arab dan Inggris), hafalan al-Quran, penguasaan ilmu-ilmu Islam, dan penghayatan nilai-nilai Islam melalui pembiasaan sehari-hari.

X